Analisa Perkembangan
Bahasa Indonesia
Perkembangan bahasa, pada usia bawah lima tahun (balita)
akan berkembang sangat aktif dan pesat. Keterlambatan bahasa pada periode ini,
dapat menimbulkan berbagai masalah dalam proses belajar di usia sekolah. Anak
yang mengalami keterlambatan bicara dan bahasa beresiko mengalami kesulitan
belajar, kesulitan membaca dan menulis dan akan menyebabkan pencapaian akademik
yang kurang secara menyeluruh, hal ini dapat berlanjut sampai usia dewasa muda.
Selanjutnya orang dewasa dengan pencapaian akademik yang rendah akibat
keterlambatan bicara dan bahasa, akan mengalami masalah perilaku dan
penyesuaian psikososial.
Komunikasi adalah suatu alat yang digunakan oleh manusia
untuk berinteraksi satu dengan yang lainnya dalam bentuk bahasa. Komunikasi
tersebut terjadi baik secara verbal maupun non verbal yaitu dengan tulisan,
bacaan dan tanda atau simbol. Berbahasa itu sendiri merupakan proses yang
kompleks dan tidak terjadi begitu saja. Setiap individu berkomunikasi lewat
bahasa memerlukan suatu proses yang berkembang dalam tahap-tahap usianya.
Bagaimana bahasa bisa digunakan untuk berkomunikasi selalu menjadi pertanyaan
yang menarik untuk dibahas sehingga memunculkan banyak teori .
Seorang anak yang mengalami gangguan berbahasa mungkin saja
ia dapat mengucapkan satu kata dengan jelas tetapi tidak dapat menyusun dua
kata dengan baik, atau sebaliknya seorang anak mungkin saja dapat mengucapkan
sebuah kata yang sedikit sulit untuk dimengerti tetapi ia dapat menyusun kata-kata
tersebut dengan benar untuk menyatakan keinginannya.
Masalah bicara dan bahasa sebenarnya berbeda tetapi kedua
masalah ini sering kali tumpang tindih. Gangguan bicara dan bahasa terdiri dari
masalah artikulasi, suara, kelancaran bicara (gagap), afasia (kesulitan dalam
menggunakan kata-kata, biasanya akibat cedera otak) serta keterlambatan dalam
bicara atau bahasa. Keterlambatan bicara dan bahasa dapat disebabkan oleh
berbagai faktor termasuk faktor lingkungan atau hilangnya pendengaran. Gangguan
bicara dan bahasa juga berhubungan erat dengan area lain yang mendukung proses
tersebut seperti fungsi otot mulut dan fungsi pendengaran.
Keterlambatan dan gangguan bisa mulai dari bentuk yang
sederhana seperti bunyi suara yang “tidak normal” (sengau, serak) sampai dengan
ketidakmampuan untuk mengerti atau menggunakan bahasa, atau ketidakmampuan
mekanisme motorik oral dalam fungsinya untuk bicara dan makan.
Gangguan perkembangan artikulasi meliputi kegagalan
mengucapkan satu huruf sampai beberapa huruf, sering terjadi penghilangan atau
penggantian bunyi huruf tersebut sehingga menimbulkan kesan cara bicaranya
seperti anak kecil. Selain itu juga dapat berupa gangguan dalam pitch, volume
atau kualitas suara.
Afasia yaitu kehilangan kemampuan untuk membentuk kata-kata
atau kehilangan kemampuan untuk menangkap arti kata-kata sehingga pembicaraan
tidak dapat berlangsung dengan baik. Anak-anak dengan afasia didapat memiliki
riwayat perkembangan bahasa awal yang normal, dan memiliki onset setelah trauma
kepala atau gangguan neurologis lain (contohnya kejang).
Gagap adalah gangguan kelancaran atau abnormalitas dalam
kecepatan atau irama bicara. Terdapat pengulangan suara, suku kata atau kata
atau suatu bloking yang spasmodik, bisa terjadi spasme tonik dari otot-otot
bicara seperti lidah, bibir dan laring. Terdapat kecendrungan adanya riwayat
gagap dalam keluarga. Selain itu, gagap juga dapat disebabkan oleh tekanan dari
orang tua agar anak bicara dengan jelas, gangguan lateralisasi, rasa tidak
aman, dan kepribadian anak.
Sebagian besar konstruksi morfologi anak akan tergantung
pada kemampuannya menerima dan memproduksi unit fonologi. Selama usia pra
sekolah, anak tidak hanya menerima inventaris fonetik dan sistem fonologi tapi
juga mengembangkan kemampuan menentukan bunyi mana yang dipakai untuk
membedakan makna.
Pemerolehan fonologi berkaitan dengan proses konstruksi suku
kata yang terdiri dari gabungan vokal dan konsonan. Bahkan dalam babbling, anak
menggunakan konsonan-vokal (KV) atau konsonan-vokal-konsonan (KVK). Proses
lainnya berkaitan dengan asimilasi dan substitusi sampai pada persepsi dan
produksi suara.
KRONOLOGI
Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa
Austronesia dari cabang bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi, yang digunakan sebagai
lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern.
Aksara pertama dalam bahasa Melayu atau Jawi ditemukan di
pesisir tenggara Pulau Sumatera, mengindikasikan bahwa bahasa ini menyebar ke
berbagai tempat di Nusantara dari wilayah ini, berkat penggunaannya oleh
Kerajaan Sriwijaya yang menguasai jalur perdagangan. Istilah Melayu atau
sebutan bagi wilayahnya sebagai Malaya sendiri berasal dari Kerajaan Malayu
yang bertempat di Batang Hari, Jambi, dimana diketahui bahasa Melayu yang
digunakan di Jambi menggunakan dialek "o" sedangkan dikemudian hari
bahasa dan dialek Melayu berkembang secara luas dan menjadi beragam.
Istilah Melayu atau Malayu berasal dari Kerajaan Malayu,
sebuah kerajaan Hindu-Budha pada abad ke-7 di hulu sungai Batanghari, Jambi di
pulau Sumatera, jadi secara geografis semula hanya mengacu kepada wilayah
kerajaan tersebut yang merupakan sebagian dari wilayah pulau Sumatera. Dalam
perkembangannya pemakaian istilah Melayu mencakup wilayah geografis yang lebih
luas dari wilayah Kerajaan Malayu tersebut, mencakup negeri-negeri di pulau
Sumatera sehingga pulau tersebut disebut juga Bumi Melayu seperti disebutkan
dalam Kakawin Nagarakretagama.
Ibukota Kerajaan Melayu semakin mundur ke pedalaman karena
serangan Sriwijaya dan masyarakatnya diaspora keluar Bumi Melayu, belakangan
masyarakat pendukungnya yang mundur ke pedalaman berasimilasi ke dalam
masyarakat Minangkabau menjadi klan Malayu (suku Melayu Minangkabau) yang
merupakan salah satu marga di Sumatera Barat. Sriwijaya berpengaruh luas hingga
ke Filipina membawa penyebaran Bahasa Melayu semakin meluas, tampak dalam
prasasti Keping Tembaga Laguna.
Bahasa Melayu kuno yang berkembang di Bumi Melayu tersebut
berlogat "o" seperti Melayu Jambi, Minangkabau, Kerinci, Palembang
dan Bengkulu. Semenanjung Malaka dalam Nagarakretagama disebut Hujung Medini
artinya Semenanjung Medini.
Dalam perkembangannya orang Melayu migrasi ke Semenanjung
Malaysia (= Hujung Medini) dan lebih banyak lagi pada masa perkembangan
kerajaan-kerajaan Islam yang pusat mandalanya adalah Kesultanan Malaka, istilah
Melayu bergeser kepada Semenanjung Malaka (= Semenanjung Malaysia) yang
akhirnya disebut Semenanjung Melayu atau Tanah Melayu. Tetapi nyatalah bahwa
istilah Melayu itui berasal dari Indonesia. Bahasa Melayu yang berkembang di
sekitar daerah Semenanjung Malaka berlogat "e".
Kesultanan Malaka dimusnahkan oleh Portugis tahun 1512
sehingga penduduknya diaspora sampai ke kawasan timur kepulauan Nusantara.
Bahasa Melayu Purba sendiri diduga berasal dari pulau Kalimantan, jadi diduga
pemakai bahasa Melayu ini bukan penduduk asli Sumatera tetapi dari pulau
Kalimantan. Suku Dayak yang diduga memiliki hubungan dengan suku Melayu kuno di
Sumatera misalnya Dayak Salako, Dayak Kanayatn (Kendayan), dan Dayak Iban yang
semuanya berlogat "a" seperti bahasa Melayu Baku.
Penduduk asli Sumatera sebelumnya kedatangan pemakai bahasa
Melayu tersebut adalah nenek moyang suku Nias dan suku Mentawai. Dalam
perkembangannya istilah Melayu kemudian mengalami perluasan makna, sehingga
muncul istilah Kepulauan Melayu untuk menamakan kepulauan Nusantara.
Secara sudut pandang historis juga dipakai sebagai nama
bangsa yang menjadi nenek moyang penduduk kepulauan Nusantara, yang dikenal
sebagai rumpun Indo-Melayu terdiri Proto Melayu (Melayu Tua/Melayu Polinesia)
dan Deutero Melayu (Melayu Muda). Setelah mengalami kurun masa yang panjang
sampai dengan kedatangan dan perkembangannya agama Islam, suku Melayu sebagai
etnik mengalami penyempitan makna menjadi sebuah etnoreligius (Muslim) yang
sebenarnya didalamnya juga telah mengalami amalgamasi dari beberapa unsur
etnis.
M. Muhar Omtatok, seorang Seniman, Budayawan dan Sejarahwan
menjelaskan sebagai berikut: "Melayu secara puak (etnis, suku), bukan
dilihat dari faktor genekologi seperti kebanyakan puak-puak lain. Di Malaysia,
tetap mengaku berpuak Melayu walau moyang mereka berpuak Jawa, Mandailing,
Bugis, Keling dan lainnya. Beberapa tempat di Sumatera Utara, ada beberapa
Komunitas keturunan Batak yang mengaku Orang Kampong - Puak Melayu
Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 Masehi diketahui memakai
bahasa Melayu (sebagai bahasa Melayu Kuna) sebagai bahasa kenegaraan. Lima
prasasti kuna yang ditemukan di Sumatera bagian selatan peninggalan kerajaan
itu menggunakan bahasa Melayu yang bertaburan kata-kata pinjaman dari bahasa
Sanskerta, suatu bahasa Indo-Eropa dari cabang Indo-Iran. Jangkauan penggunaan
bahasa ini diketahui cukup luas, karena ditemukan pula dokumen-dokumen dari
abad berikutnya di Pulau Jawa dan Pulau Luzon. Kata-kata seperti samudra,
istri, raja, putra, kepala, kawin, dan kaca masuk pada periode hingga abad
ke-15 Masehi.
Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai
bahasa Melayu Klasik (classical Malay atau medieval Malay). Bentuk ini dipakai
oleh Kesultanan Melaka, yang perkembangannya kelak disebut sebagai bahasa
Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar
Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya.[rujukan?] Laporan Portugis, misalnya
oleh Tome Pires, menyebutkan adanya bahasa yang dipahami oleh semua pedagang di
wilayah Sumatera dan Jawa. Magellan dilaporkan memiliki budak dari Nusantara
yang menjadi juru bahasa di wilayah itu. Ciri paling menonjol dalam ragam
sejarah ini adalah mulai masuknya kata-kata pinjaman dari bahasa Arab dan
bahasa Parsi, sebagai akibat dari penyebaran agama Islam yang mulai masuk sejak
abad ke-12. Kata-kata bahasa Arab seperti masjid, kalbu, kitab, kursi, selamat,
dan kertas, serta kata-kata Parsi seperti anggur, cambuk, dewan, saudagar,
tamasya, dan tembakau masuk pada periode ini. Proses penyerapan dari bahasa
Arab terus berlangsung hingga sekarang.
Kedatangan pedagang Portugis, diikuti oleh Belanda, Spanyol,
dan Inggris meningkatkan informasi dan mengubah kebiasaan masyarakat pengguna
bahasa Melayu. Bahasa Portugis banyak memperkaya kata-kata untuk kebiasaan
Eropa dalam kehidupan sehari-hari, seperti gereja, sepatu, sabun, meja, bola,
bolu, dan jendela. Bahasa Belanda terutama banyak memberi pengayaan di bidang
administrasi, kegiatan resmi (misalnya dalam upacara dan kemiliteran), dan
teknologi hingga awal abad ke-20. Kata-kata seperti asbak, polisi, kulkas,
knalpot, dan stempel adalah pinjaman dari bahasa ini.
Bahasa yang dipakai pendatang dari Cina juga lambat laun
dipakai oleh penutur bahasa Melayu, akibat kontak di antara mereka yang mulai
intensif di bawah penjajahan Belanda. Sudah dapat diduga, kata-kata Tionghoa
yang masuk biasanya berkaitan dengan perniagaan dan keperluan sehari-hari,
seperti pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke, dan cukong.
Jan Huyghen van Linschoten pada abad ke-17 dan Alfred Russel
Wallace pada abad ke-19 menyatakan bahwa bahasa orang Melayu/Melaka dianggap
sebagai bahasa yang paling penting di "dunia timur". Luasnya
penggunaan bahasa Melayu ini melahirkan berbagai varian lokal dan temporal.
Bahasa perdagangan menggunakan bahasa Melayu di berbagai pelabuhan Nusantara
bercampur dengan bahasa Portugis, bahasa Tionghoa, maupun bahasa setempat.
Terjadi proses pidginisasi di beberapa kota pelabuhan di kawasan timur
Nusantara, misalnya di Manado, Ambon, dan Kupang. Orang-orang Tionghoa di
Semarang dan Surabaya juga menggunakan varian bahasa Melayu pidgin. Terdapat
pula bahasa Melayu Tionghoa di Batavia. Varian yang terakhir ini malah dipakai
sebagai bahasa pengantar bagi beberapa surat kabar pertama berbahasa Melayu
(sejak akhir abad ke-19). Varian-varian lokal ini secara umum dinamakan bahasa
Melayu Pasar oleh para peneliti bahasa.
Terobosan penting terjadi ketika pada pertengahan abad ke-19
Raja Ali Haji dari istana Riau-Johor
(pecahan Kesultanan Melaka) menulis kamus ekabahasa untuk
bahasa Melayu. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa bahasa ini adalah bahasa
yang full-fledged, sama tinggi dengan bahasa-bahasa internasional pada masa
itu, karena memiliki kaidah dan dokumentasi kata yang terdefinisi dengan jelas.
Hingga akhir abad ke-19 dapat dikatakan terdapat paling
sedikit dua kelompok bahasa Melayu yang dikenal masyarakat Nusantara: bahasa
Melayu Pasar yang kolokial dan tidak baku serta bahasa Melayu Tinggi yang
terbatas pemakaiannya tetapi memiliki standar. Bahasa ini dapat dikatakan
sebagai lingua franca, tetapi kebanyakan berstatus sebagai bahasa kedua atau
ketiga. Kata-kata pinjaman
BALAI PUSTAKA
Balai Pustaka (Ejaan Van Ophuijsen: Balai Poestaka, bahasa
Jawa ejaan lama: Balé Poestaka) adalah sebuah perusahaan penerbitan
danpercetakan milik negara. Balai Pustaka didirikan dengan nama Commissie voor
de Volkslectuur (bahasa Belanda: "Komisi untuk Bacaan Rakyat") oleh
pemerintah Hindia-Belanda pada tanggal 14 September 1908. Commissie voor de
Volkslectuur kemudian berubah menjadi "Balai Poestaka" pada tanggal
22 September 1917. Balai Pustaka menerbitkan kira-kira 350 judul buku per tahun
yang meliputi kamus, buku referensi, keterampilan, sastra, sosial, politik,
agama, ekonomi, dan penyuluhan.
Menurut Menteri BUMN, Mustafa Abubakar, Balai Pustaka kini
terancam bangkrut dan akan dilikuidasi karena terus mengalami kerugian.
Kios Balai Poestaka di Purwokerto pada masa Hindia-Belanda
Tujuan didirikannya Balai Pustaka ialah untuk mengembangkan
bahasa-bahasa daerah utama di Hindia-Belanda. Bahasa-bahasa ini adalah bahasa
Jawa, bahasa Sunda, bahasa Melayu, dan bahasa Madura.
Ada visi alternatif yang menyebutkan bahwa pendiriannya kala
itu konon untuk mengantisipasi tingginya gejolak perjuangan bangsa Indonesia
yang hanya bisa disalurkan lewat karya-karya tulisan. Berbagai tulisan
masyarakat anti-Belanda bermunculan di koran-koran daerah skala kecil, sehingga
perusahaan penerbitan ini lalu didirikan Belanda dengan tujuan utama untuk
meredam dan mengalihkan gejolak perjuangan bangsa Indonesia lewat media tulisan
dan menyalurkan nya secara lebih manusiawi sehingga tidak bertentangan dengan
kepentingan Belanda di Indonesia.
Tujuan lain yang dilakukan oleh Komisi Bacaan Rakyat (KBR)
yaitu menerjemahkan atau menyadur hasil sastra Eropa hal ini juga bertujuan
agar rakyat Indonesia buta terhadap informasi yang berkembang di negaranya
sendiri.
Tidak semua usaha yang dilakukan oleh (BKR) negatif. usaha
usaha yang positif antara lain: mengadakan perpustakaan di tiap-tiap sekolah,
mengadakan peminjaman buku-buku dengan tarif murah secara teratur, memberikan
bantuan kepada usaha-usaha swasta untuk menyelenggarakan taman bacaan,
menerbitkan majalah-majalah Sari Pustaka dan Panji Pustaka dalam bahasa Melayu
Kejawen dalam bahasa Jawa, dan majalah Parahiangan dalam bahasa Sunda.
Langkah maju yang dilakukan KBR, yang telah berhasil sebagai
pencetak, penerbit, dan penjual majalah, adalah mengubah KBR menjadi Yayasan
Resmi Balai Pustaka pada tahun 1917.
Buku Balé Poestaka (Supraba lan Suminten, 1923)
Salah satu novel dalam bahasa Melayu terbitan Balai Pustaka
kala itu yang ternama berjudul Siti Noerbaja karangan Marah Roesli, seorang
penulis dari Minangkabau.
Di era itu juga menjadi penanda penyebaran sastra Jawa Modern.
Jumlah buku berbahasa Jawa lebih banyak dibandingkan yang berbahasa Melayu.
Dari penelusuran George Quinn, pada katalog Balai Pustaka di 1920, ada 40 buku
berbahasa Madura, 80 judul berbahasa Melayu, hampir 100 buku berbahasa Sunda,
dan hampir 200 berbahasa Jawa. Pada tahun ini pula lahir novel Serat
Rijantokarangan Raden Bagoes Soelardi yang menjadi tonggak sastra Jawa modern.
TAMAN BACAAN MASYARAKAT
Yogyakarta (30/08) Taman Bacaan Masyarakat (TBM) adalah
lembaga pembudayaan kegemaran membaca masyarakat yang menyediakan bahan bacaan,
berupa: buku, majalah, tabloid, koran, komik, dan bahan multi media lain, yang
dilengkapi dengan adanya ruangan untuk membaca, diskusi, bedah buku, menulis,
dan kegiatan-kegiatan sejenis lainnya, dan didukung oleh pengelola yang
berperan sebagai motivator.
Penyelenggaraan TBM dimaksudkan untuk menyediakan bahan
bacaan dalam rangka untuk membantu dan memberikan layanan kepada masyarakat
sesuai dengan (1) kebutuhan, (2) kemampuan keaksaraan, dan (3) keterampilan
membaca masyarakat merata, meluas, terjangkau dan mudah diakses oleh masyarakat
dengan murah. Adapun tujuannya adalah:
menumbuhkembangkan minat dan kegemaran membaca masyarakat,
mendukung pembudayaan kegemaran membaca,
mendorong terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat.
mewujudkan kualitas dan kemandirian masyarakat yang
berpengetahuan, berketerampilan, berbudaya maju, dan beradab.
Fungsi yang melekat pada TBM adalah sebagai; (1) sumber
belajar, (2) sumber informasi, dan (3) sarana rekreasi-edukasi. Sebagai Sumber
Belajar, TBM dengan bahan bacaan yang disediakan dapat memberikan layanan
kepada masyarakat untuk melakukan aktivitas membaca dan belajar dalam rangka
mendukung terciptanya masyarakat pembelajar sepanjang hayat, seperti: buku
pengetahuan untuk membuka wawasan dan menambah pengetahuan, buku keterampilan,
untuk memperoleh berbagai keterampilan praktis yang bisa dipraktekkan setelah
membaca misal praktek memasak, budidaya ikan, menanam cabe dan lainnya.
Sebagai sumber informasi, dalam menyediakan bahan bacaan,
selain buku-buku TBM juga menyediakan koran, tabloid, dan referensi, seperti
brosur, leaflet yang semuanya ini dapat memberikan informasi. Disamping itu
dengan peralatan elektroniknya TBM dapat juga menyediakan internet yang dapat
digunakan oleh masyarakat untuk mengakses informasi melalui dunia maya.
Sebagai tempat rekreasi-edukasi, dengan buku-buku nonfiksi
yang disediakan memberikan hiburan yang mendidik dan menyenangkan. Lebih jauh
dari itu, TBM dengan bahan bacaan yang disediakan mampu membawa masyarakat
lebih dewasa dalam berperilaku, bergaul di masyarakat lingkugan.
Dari pengertian TBM disebutkan bahwa pengelola TBM berperan
sebagai motivator, artinya pengelola TBM diharapkan mampu mendorong masyarakat
dan khususnya pengunjung untuk mau dan mampu meningkatkan keterampilan membaca
dengan kreativitasnya memberikan layanan. Layanan yang dapat diberikan TBM
adalah:
Membaca ditempat, agar pengunjung mau dan gemar membaca di
TBM maka bahan bacaan yang disediakan hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan
pengunjung. Dengan menemukenali minat dan karakteristik pengunjung dapat
menentukan bahan bacaan yang tepat.
Meminjamkan buku, artinya buku dapat dibawa pulang untuk
dibaca dirumah dalam waktu tertentu dan peminjam wajib mengembalikan tepat
waktu.
Pembelajaran, dengan menggunakan berbagai pendekatan,
misalnya:
membacakan buku dan/atau mendongeng untuk anak usia
dini,membimbing belajar membaca, menulis, berhitung, dan berkomunikasi,belajar
sambil praktek keterampilan atau melaksanakan kegiatan yang menyenangkan dan
bermanfaat,membimbing teknik membaca cepat (scanning dan skimming),
menemukan kalimat dan kata kunci dari bacaan,lomba
menceriterakan kembali buku yang telah dibaca, membedahnya dan mengenal
bagaimana memproduksi buku, bagaimana menjadi pembaca dan penulis kreatif.
EJAAN SOEWANDI DAN EYD.
Dari Ejaan van Ophuijsen Hingga EYD
1. Ejaan van Ophuijsen
Pada tahun 1901 ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin, yang
disebut Ejaan van Ophuijsen, ditetapkan. Ejaan tersebut dirancang oleh van
Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma'moer dan Moehammad Taib
Soetan Ibrahim. Hal-hal yang menonjol dalam ejaan ini adalah sebagai berikut.
a. Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.
b. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.
c. Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk
menuliskan kata-kata ma'moer, 'akal, ta', pa', dinamai'.
2. Ejaan Soewandi
Pada tanggal 19 Maret 1947 ejaan Soewandi diresmikan
menggantikan ejaan van Ophuijsen. Ejaan baru itu oleh masyarakat diberi julukan
ejaan Republik. Hal-hal yang perlu diketahui sehubungan dengan pergantian ejaan
itu adalah sebagai berikut.
a. Huruf oe diganti dengan u, seperti pada guru, itu, umur.
b. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti
pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.
c. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti anak2,
ber-jalan2, ke-barat2-an.
d. Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis
serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti kata depan di pada dirumah,
dikebun, disamakan dengan imbuhan di- pada ditulis, dikarang.
3. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia
meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu
berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia
yang Disempurnakan, sebagai patokan pemakaian ejaan itu.
Karena penuntun itu perlu dilengkapi, Panitia Pengembangan
Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dibentuk oleh
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya tanggal 12 Oktober
1972, No. 156/P/1972 (Amran Halim, Ketua), menyusun buku Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang
lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat
putusannya No. 0196/1975 memberlakukan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi. Edisi
revisi dikuatkan dengan surat Putusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.
0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987.
Beberapa hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan Ejaan
Bahasa Indonesia yang Disempurnakan adalah sebagai berikut.
1. Perubahan Huruf
Ejaan Soewandi Ejaan yang Disempurnakan
dj djalan, djauh J jalan, jauh
j pajung, laju Y payung, layu
nj njonja, bunji ny nyonya, bunyi
sj isjarat, masjarakat Sy isyarat, masyarakat
tj tjukup, tjutji C cukup, cuci
ch tarich, achir kh tarikh, akhir
2. Pemakaian Huruf
A. Huruf Abjad
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri
atas huruf Aa, Bb, Cc, Dd, Ee, Ff, Gg, Hh, Ii, Jj, Kk, Ll, Mm, Nn, Oo, Pp, Qq,
Rr, Ss, Tt, Uu, Vv, Ww, Xx, Yy, Zz
B. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri
atas huruf a, e, i, o, dan u.
C. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia
terdiri atas huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w,
x, y, dan z.
D. Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan
dengan ai, au, dan oi.
Huruf Diftong Contoh Pemakaian dalam Kata
Di Awal Di Tengah Di Akhir
ai Ain syaitan Pandai
au Aula saudara Harimau
oi – boikot Amboi
E. Gabungan Huruf Konsonan
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang
melambangkan konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy.
Gabungan Contoh Pemakaian dalam Kata
Huruf
Konsonan Di Awal Di Tengah Di Akhir
Kh khusus akhir Tarikh
Ng ngilu bangun Senang
Ny nyata hanyut –
Sy syarat isyarat Arasy
F. Pemenggalan Kata
1. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai
berikut
a. Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan
kata itu dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
Misalnya: ma-in, sa-at, bu-ah
b. Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan
huruf konsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan sebelum
huruf konsonan.
Misalnya: ba-pak, ba-rang, su-lit, la-wan, de-ngan,
ke-nyang, mu-ta-khir
c. Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang
berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Gabungan
huruf konsonan tidak pernah diceraikan.
Misalnya : man-di, som-bong, swas-ta, cap-lok, Ap-ril,
bang-sa, makh-luk
d. Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau
lebih, pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf
konsonan yang kedua.
Misalnya : in-strumen, ul-tra, in-fra, bang-krut, ben-trik,
ikh-las
2. Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang
mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai
dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.
Misalnya : makan-an, me-rasa-kan, mem-bantu, pergi-lah
3. Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring
A. Huruf Kapital atau Huruf Besar
1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf
pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya:
• Dia mengantuk.
• Apa maksudnya?
2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan
langsung.
Misalnya:
• Adik bertanya, "Kapan kita pulang?"
• Bapak menasihatkan, "Berhati-hatilah, Nak!"
3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam
ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti
untuk Tuhan.
Misalnya:
• Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran,
Weda, Islam, Kristen
4. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar
kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya:
• Mahaputra Yamin
• Sultan Hasanuddin
b.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar,
kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.
Misalnya:
• Dia baru saja diangkat menjadi sultan.
• Tahun ini ia pergi naik haji.
9. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama
geografi.
Misalnya:
• Asia Tenggara
• Danau Toba
b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah
geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.
Misalnya:
• berlayar ke teluk
• pergi ke arah tenggara
c. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama
geografi yang digunakan sebagai nama jenis.
Misalnya:
• gula jawa
• pisang ambon
10. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua
unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen
resmi kecuali kata seperti dan.
Misalnya:
• Majelis Permusyawaratan Rakyat
• Republik Indonesia
b.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata
yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan,
serta nama dokumen resmi.
Misalnya:
• kerja sama antara pemerintah dan rakyat
• menjadi sebuah republik
11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur
bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan
ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
Misalnya:
• Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
• Perserikatan Bangsa-Bangsa
12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata
(termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat
kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan
untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
• Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
• Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
13. huruf capital dipakai sebagai huruf pertama unsure
singkatan nama gelar ,pangkat dan sapaan.
Misalnya:
• Dr. = doktor
• M.A. = master of arts
14. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata
penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan
paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.
Misalnya:
• Para ibu mengunjungi Ibu Hasan.
• "Silakan duduk, Dik!" kata Ucok.
b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata
penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau
penyapaan.
Misalnya:
• Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
• Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti
Anda.
Misalnya:
• Sudahkah Anda tahu?
• Surat Anda telah kami terima.
B. Huruf Miring
1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menulis nama
buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Misalnya:
• buku Negarakertagama karangan Prapanca
• majalah Bahasa dan Kesusastraan
2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau
mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
Misalnya:
• Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital
• Huruf pertama kata abad ialah a.
3. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata
nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Misalnya:
• Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
• Politik divide et impera pernah merajalela di negeri ini.
4. Penulisan Kata
A. Kata Dasar
1. Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu
kesatuan.
Misalnya:
• Ibu percaya bahwa engkau tahu.
• Kantor pajak penuh sesak.
• Buku itu sangat tebal.
B. Kata Turunan
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai
dengan kata dasarnya.
Misalnya:
• bergeletar
• dikelola
• penetapan
• menengok
• mempermainkan
2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau
akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau
mendahuluinya.
Misalnya:
• bertepuk tangan
• garis bawahi
• menganak sungai
• sebar luaskan
3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat
awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
• menggarisbawahi
• menyebarluaskan
• dilipatgandakan
• penghancurleburan
4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam
kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
adipati mahasiswa
aerodinamika mancanegara
antarkota multilateral
anumerta narapidana
audiogram nonkolaborasi
awahama Pancasila
bikarbonat panteisme
biokimia paripurna
caturtunggal poligami
dasawarsa pramuniaga
dekameter prasangka
demoralisasi purnawirawan
dwiwarna reinkarnasi
ekawarna saptakrida
ekstrakurikuler semiprofesional
elektroteknik subseksi
infrastruktur swadaya
inkonvensional telepon
introspeksi transmigrasi
kolonialisme tritunggal
kosponsor ultramodern
Catatan:
1. Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya
adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
Misalnya:
• non-Indonesia
• pan-Afrikanisme
2. Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata
esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
Misalnya:
• Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
• Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
C. Kata Ulang
1. Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan
tanda hubung.
Misalnya:
anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati,
undang-undang, biri-biri, kupu-kupu, kura-kura, laba-laba, sia-sia,
gerak-gerik, huru-hara, lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, sayur-mayur,
centang-perenang, porak-poranda, tunggang-langgang, berjalan-jalan,
dibesar-besarkan, menulis-nulis, terus-menerus, tukar-menukar, hulubalang-hulubalang,
bumiputra-bumiputra.
D. Gabungan Kata
1. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk
istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
Misalnya:
duta besar, kambing hitam, kereta api cepat luar biasa, mata
pelajaran, meja tulis, model linear, orang tua, persegi panjang, rumah sakit
umum, simpang empat.
2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin
menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk
menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan.
Misalnya:
alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru,
mesin-hitung tangan, ibu-bapak kami, orang-tua muda.
3. Gabungan kata berikut ditulis serangkai.
Misalnya:
acapkali, adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah,
astagfirullah, bagaimana, barangkali, bilamana, bismillah, beasiswa,
belasungkawa, bumiputra, daripada, darmabakti, darmasiswa, dukacita,
halalbihalal, hulubalang, kacamata, kasatmata, kepada, keratabasa, kilometer,
manakala, manasuka, mangkubumi, matahari, olahraga, padahal, paramasastra,
peribahasa, puspawarna, radioaktif, sastramarga, saputangan, saripati,
sebagaimana, sediakala, segitiga, sekalipun, silaturahmi, sukacita, sukarela,
sukaria, syahbandar, titimangsa, wasalam.
E. Kata Ganti ku, kau, mu, dan nya
Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang
mengikutinya; ku, mu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa yang kumiliki boleh kauambil.
Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
F. Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang
mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai
satu kata seperti kepada dan daripada.
Misalnya:
Kain itu terletak di dalam lemari.
Bermalam sajalah di sini.
Di mana Siti sekarang?
5. Penulisan Huruf Serapan
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari
pelbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing seperti
Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, atau Inggris.
Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjaman dalam bahasa
Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar.
1. Pertama, unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke
dalam bahasa Indonesia, seperti: reshuffle, shuttle cock, I'exploitation de
l'homme par I'homme. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia,
tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing.
2. Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya
disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar
ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat
dibandingkan dengan bentuk asalnya.
6. Kaidah ejaan
Kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur serapan itu sebagai
berikut.
aa (Belanda) menjadi a
paal
baal
octaaf pal
bal
oktaf
ae tetap ae jika tidak bervariasi dengan e
aerobe
aerodinamics aerob
aerodinamika
ae, jika bervariasi dengan e, menjadi e
haemoglobin
haematite hemoglobin
hematit
ai tetap ai
trailer
caisson trailer
kaison
au tetap au
audiogram
autotroph
tautomer
hydraulic
caustic audiogram
autotrof
tautomer
hidraulik
kaustik
c di muka a, u, o, dan konsonan menjadi k
calomel
construction
cubic
coup
classification
crystal kalomel
konstruksi
kubik
kup
klasifikasi
kristal
c di muka e, i, oe, dan y menjadi s
central
cent
cybernetics
circulation
cylinder
coelom sentral
sen
sibernetika
sirkulasi
silinder
selom
cc di muka o, u, dan konsonan menjadi k
accomodation
acculturation
acclimatization
accumulation
acclamation akomodasi
akulturasi
aklimatisasi
akumulasi
aklamasi
cc di muka e dan i menjadi ks
accent
accessory
vaccine aksen
aksesori
vaksin
cch dan ch di muka a, o, dan konsonan menjadi k
saccharin
charisma
cholera
chromosome
technique sakarin
karisma
kolera
kromosom
teknik
ch yang lafalnya s atau sy menjadi s
echelon
machine eselon
mesin
ch yang lafalnya c menjadi c
check
China cek
Cina
ç (Sanskerta) menjadi s
çabda
çastra sabda
sastra
e tetap e
effect
description
synthesis efek
deskripsi
sintesis
ea tetap ea
idealist
habeas idealis
habeas
ee (Belanda) menjadi e
stratosfeer
systeem stratosfer
sistem
ei tetap ei
eicosane
eidetic
einsteinium eikosan
eidetik
einsteinium
eo tetap eo
stereo
geometry
zeolite stereo
geometri
zeolit
eu tetap eu
neutron
eugenol
europium neutron
eugenol
europium
f tetap f
fanatic
factor
fossil fanatik
faktor
fosil
gh menjadi g
sorghum sorgum
gue menjadi ge
igue
gigue ige
gige
i pada awal suku kata di muka vokal tetap i
iambus
ion
iota iambus
ion
iota
ie (Belanda) menjadi i jika lafalnya i
politiek
riem politik
rim
ie tetap ie jika lafalnya bukan i
variety
patient
efficient varietas
pasien
efisien
kh (Arab) tetap kh
khusus
akhir khusus
akhir
ng tetap ng
contingent
congress
linguistics kontingen
kongres
linguistik
oe (oi Yunani) menjadi e
oestrogen
oenology
foetus estrogen
enologi
fetus
oo (Belanda) menjadi o
cartoon
proof
pool kartun
pruf
pul
oo (vokal ganda) tetap oo
zoology
coordination zoologi
koordinasi
ou menjadi u jika lafalnya u
gouverneur
coupon
contour gubernur
kupon
kontur
ph menjadi f
phase
physiology
spectograph fase
fisiologi
spektograf
ps tetap ps
pseudo
psychiatry
psychosomatic pseudo
psikiatri
psikosomatik
pt tetap pt
pterosaur
pteridology
ptyalin pterosaur
pteridologi
ptialin
q menjadi k
aquarium
frequency
equator akuarium
frekuensi
ekuator
rh menjadi r
rhapsody
rhombus
rhythm
rhetoric rapsodi
rombus
ritme
retorika
sc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi sk
scandium
scotapia
scutella
sclerosis
scriptie skandium
skotapia
skutela
sklerosis
skripsi
sc di muka e, i, dan y menjadi s
scenography
scintillation
scyphistoma senografi
sintilasi
sifistoma
sch di muka vokal menjadi sk
schema
schizophrenia
scholasticism skema
skizofrenia
skolastisisme
t di muka i menjadi s jika lafalnya s
ratio
action
patient rasio
aksi
pasien
th menjadi t
theocracy
orthography
thiopental
thrombosis
methode teokrasi
ortografi
tiopental
trombosis
metode
u tetap u
unit
nucleolus
structure
institute unit
nukleolus
struktur
institut
ua tetap ua
dualisme
aquarium dualisme
akuarium
ue tetap ue
suede
duet sued
duet
ui tetap ui
equinox
conduite ekuinoks
konduite
uo tetap uo
fluorescein
quorum
quota fluoresein
kuorum
kuota
uu menjadi u
prematuur
vacuum prematur
vakum
v tetap v
vitamin
television
cavalry vitamin
televisi
kavaleri
x pada awal kata tetap x
xanthate
xenon
xylophone xantat
xenon
xilofon
x pada posisi lain menjadi ks
executive
taxi
exudation
latex eksekutif
taksi
eksudasi
lateks
xc di muka e dan i menjadi ks
exception
excess
excision
excitation eksepsi
ekses
eksisi
eksitasi
xc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi ksk
excavation
excommunication
excursive
exclusive ekskavasi
ekskomunikasi
ekskursif
eksklusif
y tetap y jika lafalnya y
yakitori
yangonin
yen
yuan yakitori
yangonin
yen
yuan
y menjadi i jika lafalnya i
yttrium
dynamo
propyl
psychology itrium
dinamo
propil
psikologi
z tetap z
zenith
zirconium
zodiac
zygote zenith
zirkonium
zodiak
zigot
7. Konsonan ganda
Konsonan ganda menjadi konsonan tunggal kecuali kalau dapat
membingungkan.
Misalnya:
gabbro
accu
effect
commision
ferrum
solfeggio gabro
aki
efek
komisi
ferum
solfegio
tetapi:
mass massa
Catatan
1. Unsur pungutan yang sudah lazim dieja secara Indonesia
tidak perlu lagi diubah
Misalnya: kabar, sirsak, iklan, perlu, bengkel, hadir.
Sekalipun dalam ejaan yang disempurnakan huruf q dan x
diterima sebagai bagian abjad bahasa Indonesia, kedua huruf itu diindonesiakan
menurut kaidah yang terurai di atas. Kedua huruf itu digunakan dalam penggunaan
tertentu saja seperti dalam pembedaan nama dan istilah khusus.
8. Akhiran asing
Di samping pegangan untuk penulisan unsur serapan tersebut
di atas, berikut ini didaftarkan juga akhiran-akhiran asing serta penyesuaiannya
dalam bahasa Indonesia. Akhiran itu diserap sebagai bagian kata yang utuh.
Kata seperti standardisasi, efektif, dan implementasi
diserap secara utuh di samping kata standar, efek, dan implemen.
-aat (Belanda) menjadi -at
advokaat advokat
-age menjadi -ase
percentage
etalage persentase
etalase
-al, -eel (Belanda) menjadi -al
structural, structureel
formal, formeel
normal, normaal struktural
formal
normal
-ant menjadi -an
accountant
informant akuntan
informan
-ary, -air (Belanda) menjadi -er
complementary, complementair
primary, primair
secondary, secundair komplementer
primer
sekunder
-(a)tion, -(a)tie (Belanda) menjadi -asi, -si
action, actie
publication, publicatie aksi
publikasi
-eel (Belanda) menjadi -el
ideëel
materieel
moreel ideel
materiel
morel
-ein tetap -ein
casein
protein kasein
protein
-ic, -ics, -ique, -iek, -ica (Belanda) menjadi -ik, -ika
logic, logica
phonetics, phonetiek
physics, physica
dialectics, dialektica
technique, techniek logika
fonetik
fisika
dialektika
teknik
-ic, -isch (adjektiva Belanda) menjadi -ik
electronic, electronisch
mechanic, mechanisch
ballistic, ballistisch elektronik
mekanik
balistik
-ical, -isch (Belanda) menjadi -is
economical, economisch
practical, practisch
logical, logisch ekonomis
praktis
logis
-ile, iel menjadi -il
percentile, percentiel
mobile, mobiel
-ism, -isme (Belanda) menjadi -isme
modernism, modernisme
communism, communisme modernisme
komunisme
-ist menjadi -is
publicist
egoist publisis
egois
-ive, -ief (Belanda) menjadi -if
descriptive, descriptief
demonstrative, demonstratief deskriptif
demonstratif
-logue menjadi -log
catalogue
dialogue katalog
dialog
-logy, -logie (Belanda) menjadi -logi
technology, technologie
physiology, physiologie
analogy, analogie teknologi
fisiologi
analogi
-loog (Belanda) menjadi -log
analoog
epiloog analog
epilog
-oid, -oide (Belanda) menjadi -oid
hominoid, hominoide
anthropoid, anthropoide hominoid
anthropoid
-oir(e) menjadi -oar
trottoir
repertoire trotoar
repertoar
-or, -eur (Belanda) menjadi -ur, -ir
director, directeur
inspector, inspecteur
amateur
formateur direktur
inspektur
amatir
formatur
-or tetap -or
dictator
corrector diktator
korektor
-ty, -teit (Belanda) menjadi -tas
university, universiteit
quality, qualiteit universitas
kualitas
-ure, -uur (Belanda) menjadi -ur
structure, struktuur
premature, prematuur struktur
prematur
sumber :
http://surya-hadidi.blogspot.com/2011/01/analisis-perkembangan-bahasa-anak.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Balai_Pustaka
http://fauziep.com/taman-bacaan-masyarakat-rintisan/
http://dwiajisapto.blogspot.com/2011/02/dari-ejaan-van-ophuijsen-hingga-eyd.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar